Tips dalam membuat fotografi perjalanan (Travel Photography)

Artikel yang saya buat ini mungkin uda banyak banget yang tau bahkan hafal tapi disini saya akan buat menurut versi saya sendiri.
Awal kata perlu diingat bahwa fotografi perjalanan atau istilah kerennya itu Travel Photography adalah ga melulu soal foto pemandangan (landscape, seascape, atau cityscape), tetapi lebih kepada hasil foto keseluruhan selama kita melakukan trip ke suatu tempat. Baik itu foto manusia (people), budaya (culture), makanan/minuman, dan pemandangan itu semua merupakan bagian dari fotografi perjalanan.

Jadi gimana sih cara bikin foto perjalanan yang bagus? Oke disini saya akan bagi beberapa tipsnya:

1) Rencana, rencana, dan rencana
Ya, rencana merupakan bagian terpenting dalam melakukan suatu perjalanan. Dalam membuat fotografi perjalanan, rencana dapat dimulai misal  dari: kemana saya akan pergi?, apa saja yang akan saya foto disana? Berapa budget yang harus saya siapkan? Berapa hari saya disana? Dimana saya akan tinggal? Dan kalo ingin lebih spesifik mungkin kita dapat melihat cuaca ketika sedang disana, festival apa yang sedang berlangsung, makanan lokal apa yang harus dicoba. Ya rencana memang tidak dapat dipisahkan demi mendapat foto travel yang bagus.
2_zpsda7de3e5.jpg

 

1_zpsaee61913.jpg

 

“Yap! tentukan dulu tujuan travel kita dan kira2 setelah sampai sana kita mau foto apa yah”

 

 

2) Pake kamera dan lensa apa ya?
Kamera dan lensa merupakan 2 hal yang dapat terpisahkan dari fotografi travel. Pada umumnya kemanapun orang pergi pasti akan membawa kamera, bahkan belakangan ini handphone dan smartphone sudah dilengkapi dengan kamera yang cukup memadai. Untuk pemakai D-slr, lensa wide dengan range 18-200mm merupakan lensa ideal untuk travel fotografi, disamping lebih ringkas, lensa ini juga lebih ringan dan murah. Untuk alternatif lain mungkin untuk lensa wide, kita dapat memakai focal length antara 10-24mm, 12-24mm, 14-24mm, 17-55mm, atau 24-70mm sedangkan untuk tele bisa memakai kisaran 55-200mm, 70-200mm, 70-300mm, atau 80-200mm. Untuk asessorisnya pendukungnya kita bisa membawa tripod, flash, filter. Filter wajib yang biasa digunakan adalah CPL (Circular Polarizing), filter ini mempunyai fungsi sebagai penghilang refleksi dan membuat langit menjadi lebih biru, ND (Neutral Density),  filter gelap ini digunakan untuk memperlambat speed kamera  serta UV (Ultraviolet) filter.

3_zps52914fb8.jpg

 

4_zps62314723.jpg

 

“Nah untuk foto pertama ini sepertinya tidak mungkin dijangkau oleh lensa wide, sedangkan untuk foto kedua kalo kedeketan bisa2 kita dicakar sama mamanya si monyet, oleh sebab itu gunakanlah lensa tele”

 

 

3) Gear mahal = Hasil bagus ??
Gear mahal memang memberikan feature lebih dari yang biasa, tapi apakah itu penting untuk fotografi travel? Pada intinya kenyamanan dan kebutuhanlah yang menjadi kunci dalam fotografi travel.  Misal dalam list perjalanan kita, kita akan mengunjungi air terjun utk  foto slowspeed,  maka tripod dan filter ND merupakan alat yang wajib dibawa tetapi jika hanya foto orang atau budaya, mungkin tripod bisa kita tinggalkan untuk memperingan perjalanan. Jadi yang terpenting adalah tehnik dan kreativitas dari sang fotografer. bahkan kita bisa lebih bangga kalo dengan gear yang biasa tapi hasilnya “luar biasa” bukan?

5_zps607a593b.jpg

 

6_zpse306bdf9.jpg

 

“Tentukan dulu apa yang mau difoto dan tehnik yang akan dipakai, ini juga bisa menentukan hasil foto yang bagus. Pada foto pertama air terjun difoto menggunakan tehnik slow speed sehingga airnya tampak halus, foto kedua adalah foto cahaya lilin yang dibawa para biksu pada saat upacara Waisak di Borobudur yang menggunakan tehnik slow speed”

 

 

4) Tidur lebih awal dan bangun lebih pagi
Bangun pagi sangat memberikan keuntungan dalam membuat fotografi perjalanan. Perlu diingat bahwa foto pemandangan terbaik dihasilkan antara jam 6-9 pagi dan 4-6 sore (golden dan blue hour) dimana pada jam-jam akan lebih banyak warna yang terekam kamera dan sinar matahari yang lebih soft. Selain itu juga akan lebih banyak aktifitas yang dapat terekam kamera seperti kegiatan nelayan yang pulang melaut, ataupun foto dedaunan yg masih terkena embun ketika matahari terbit. Hindari foto pemandangan ketika matahari tepat diatas kepala karena warna langit akan menjadi putih dan sinar matahari yang terlalu keras.

7_zps8beea6c2.jpg

 

8_zpsc667eb66.jpg

 

“Bangun lebih pagi sangat berguna pada saat kita akan foto sunrise (matahari terbit) dimana sinar matahari masih berwarna kekuningan (foto 1) dan sinar matahari masih terasa lembut (foto 2)”

 

 

5) Berinteraksi dengan warga sekitar
Mungkin agak risih ketika ada seorang dengan kamera dan lensa yang cukup besar membidik kita lalu setelah selesai itu, dia pergi begitu saja. Ya, mungkin itu yang perlu dipelajari ketika foto manusia dalam fotografi perjalanan. Interaksi merupakan hal penting dalam hal ini. Dimulai dengan obrolan kecil dan setelah itu meminta ijin untuk foto adalah cara yang sangat ampuh untuk menghasilkan foto yang “berbicara”. Karena dengan demikian akan menjaga privasi dan membangun mood seseorang.

9_zps52c72b50.jpg

 

10_zpsb661b055.jpg

 

“Sedikit obrolan dan candaan sangat menentukan hasil akhir yaitu senyuman yang membuat foto menjadi lebih hidup (foto 1) sedangkan untuk foto manusia yang tidak memerlukan interaksi kita dapat foto dengan tehnik candid sejauh tidak mengganggu aktifitas mereka (foto 2)”

 

 

6) Menunduk sedikit dan berjalan lebih jauh
Tanpa disadari kadang dengan mengubah sedikit angle, itu juga akan mengubah hasil dari foto kita. Cobalah untuk menghasilkan foto yang lain dari biasanya, baik dengan angle berbeda atau berjalan lebih jauh demi mendapat spot yang lebih baik. Kadang dengan sedikit usaha, kita bisa mendapat foto yang luar biasa yang tidak didapati orang lain. Cobalah juga untuk mencari spot yang jarang didatangi orang sehingga orang lain bertanya: “ini foto dimana?”

12_zps4e5aa587.jpg

 

11_zpsd1467b7e.jpg

 

“Lebih detail dengan lingkungan sudur pemotretan juga memberikan nilai plus bagi foto kita, no pain no gain right? Foto pertama diambil pada saat setahun setelah meletusanya gunung merapi, benda2 yang terkena awan panas masih tergeletak di jalan-jalan. Foto kedua merupakan landscape dari Pulau Belitung yang diabadikan dari puncak mercusuar”

 

 

7) Lupakan diet sementara
Pada saat mengunjungi suatu tempat, tidak sah rasanya kalau kita tidak mencicipi makanan khas daerah tersebut. Oleh karena itu cobalah bertanya tempat terbaik yang menjual makanan dan minuman tersebut. Tapi jangan lupa, sebelum dimakan, diabadikan terlebih dahulu ya, lensa bukaan lebar seperti F/1.8, F/2.8. F/3.5 sangat membantu membuat foto makanan dan minuman terlihat lebih menarik dan berdimensi.

13_zpse1535d22.jpg

 

14_zpse2aea566.jpg

 

“Foto makanan dengan lensa bukaan lebar membuat efek blur“disekitar benda, untuk makanan tehnik ini dapat membuat makanan terlihat cantik dan enak”

 

 

8) Banyak foto dan sedikit editan
Tanpa dipungkiri, editan merupakan hal yang cukup penting dalam penyajian sebuah foto. Editan simple seperti brightness, contrast, level, curve, saturation memang dapat membuat foto travel menjadi lebih hidup dan berwarna. Namun asal jangan terbalik, editan lebih banyak daripada foto yang dihasilkan. Karena pada dasarnya, foto travel memberikan informasi apa adanya kepada traveller berikutnya.

16_zpseddc1715.jpg

 

15_zps255fd9be.jpg

 

“Dengan mempertahankan hasil foto dan membuatnya menjadi sephia atau BW membuat foto dapat lebih berbicara”

 

 

 

Sekian tips dan penjelasan dari saya, semoga membantu!! Kalo ada yang mau menambahkan silahkan ya :senyum :senyum